opo ae
Bodohnya diriku slalu menunggumu yang tak penah untuk bisa mencintai aku
Oh Tuhan tolonglah beri aku cara untuk dapat melupakan dia
Dan cintanya
-by AOP-
kesadaranku pulih, takkan menunggu atau mencari jawaban lagi…
Bodohnya diriku slalu menunggumu yang tak penah untuk bisa mencintai aku
Oh Tuhan tolonglah beri aku cara untuk dapat melupakan dia
Dan cintanya
-by AOP-
kesadaranku pulih, takkan menunggu atau mencari jawaban lagi…
Pak, kenapa mesti pergi? aku takut disini…
jangan takut nduk, ini keputusan yang harus bapak ambil. ini juga demi kebaikanmu…….
Pak, kenapa aku mesti ikut pergi? aku ingin tetap disini bersama cita-citaku…
Raih cita-citamu disana, agar bapak lebih tenang
Pak, sampai kapan kita disini? semua sudah cukup kudapatkan…
Belum cukup nduk… bersabarlah, suatu hari nanti kita akan pergi dari sini
Pak, kapan kita pulang? aku sudah tudak betah?
Tunggulah sebentar lagi, bapakpun ingin pulang…
Pak, kita harus pulang…. ada bakteri tak baik yang berusaha menembus kekebalan “tubuh” kita. ayolah pak…
nduk, ini untuk proses pendewasaan dirimu. menghadapi segala masalah kehidupan yang mungkin bisa lebih berat. Jadilah wanita yang kuat. Disini adalah tempat orang lari dari masalah, banyaklah belajar dari masalah-masalah mereka. Buka mata dan hatimu…
Hmmm…..
okelah kalau begitu
sambil menunggu bus datang membawaku ke kota tujuan
di “terminal”ini, aku disini
Kutulis lagu rindu, rindu untuk yang ku rindu, tapi tak merasakan rinduku
Kutulis lagu iba, iba untuk yang kucinta, yang tak tau jatuhnya airmata
Kudendangkan lagu kebimbangan, bimbang untuk yang malang, yang tak tau entah terbuang atau disayang
Duh adikku yang sedang merekah, merekah dalam manisnya ikatan suci
yang akhirnya membawamu pergi tanpa lambaian tangan, peluk ciumku, ayah ibu dan adikmu
tanpa keikhlasan dari kami, dan gambaran kebahagiaan walau cuma setitik.
Merekah sambil membuai kuncup bunga dalam kelopak indahmu
tak tahukah tangisan kakakmu disini? yang meratapi tatapan perih ibumu
yang takut terlelap demi menunggu kepulanganmu, menunggumu berlari di ujung jalan
Read the rest of “Cerita kehidupan” »
Saat seperti ini, saat mendung, dan hujan turun…
Siang menjadi gelap dan imajinasiku makin melayang ke masa lalu
Masa kecilku…
Masa-masa indahku…
Read the rest of “Berpacu Dalam Memori” »
Kapan aku pergi?
Takkan kembali, merentas segala kenyataan, terputus oleh yang pasti
Meninggalkan semua yang kupunya dan sempat kubanggakan, kusombongkan dan kucinta
Kapan aku pergi?
Urat nadi perlahan berhenti, seketika datang menghampiri, nafas tersekat, urat dan syaraf seakan terputus satu persatu, kulit seakan dilepas dari lapisannya, sakit yang takkan bisa dibayangkan dan takkan terelakkan.
Kapankah aku mati?
Saat kain kafan dibentangkan, tubuh dimandikan, disucikan kembali dan disholatkan. Laa ilaa ha illallah…..
Laa illaa ha illallah… semua menangis, mengantarkan kepergianku, sedangkan aku..
tak lama lagi, saat tubuh ini sampai di pembaringan, hanya bersama tanah basah dan sempit, seorang diri…
Mereka akan datang, tak lama lagi… dengan entah sosok yang seperti apa, pertanyaan yang entah bisa kujawab atau tidak, saat himpitan kubur meremukredamkan tubuhku hingga hancur….!! Tiada guna ku menangis, meratap dan menyesal… Hanya mengiba, semoga masih ada amal tersisa yang akan menemaniku di ruang sempit ini, ada do’a do’a yang menerangi tempat gelap ini, hingga belatung dan cacing tanah menggerogoti jasadku hingga berurai kembali menjadi tanah…
Kini aku menanti datangnya hari, yang membangkitkanku, untuk diperhitungkan semua amalku…
Sahabatku, selagi engkau ada waktu lakukan segala kebaikan yang engkau mampu
Andai kau tahu, hidup di dunia itu seperti orang yang menumpang minum, melepas dahaga untuk melanjutkan perjalanan yang sebenarnya. Kalau kau mampu membekali hidupmu dengan mata air dari Al-Qur’an dan Sunnah, engkau takkan kehausan di tengah jalan, dan mati kekeringan. engkau akan tiba di istana pelabuhanmu yang indah, untuk membayar perjalananmu yang penuh godaan dan cobaan.
Disadari atau tidak, dbayangkan maupun tidak, dipertanyakan atau tidak, semuanya akan kembali dengan akhir yang berbeda
Allah takkan membocorkan rahasia “ini” kepada siapapun, kepada makhluk yang paling taat sekalipun. Allah hanya memberi pertanda, bila kita peka. Allah telah memberi kita isyarat, lewat kematian sahabat dan keluara kita. Dialah sang pemilik waktu dan masa, penguasa Ruh dan Jiwa. Kita hanya menunggu kedatangannya, dengan segala amal yang kita punya. Entah detik ini, menit berikutnya, atau saat ini. Entah, kita sedang mengingat-Nya atau melupakan-Nya?
cukuplah sampai di hari ini
izinkan aku lelap malam ini
tanpa buaian khayalan dan ilusi
cukup sampai hari ini…
Lama tak pernah menulis…
Aku ingin bercerita tentang sepotong kisah masa kecilku, masa aku belajar memperhatikan tiap sosok yang kutemui dan kukenal, pribadi-pribadi yang ikut andil dalam skenario masa kecilku yang saat ini masih terekam jelas dalam kenanganku. Yang mungkin tak akan atau belum tergantikan di masa ini…
Masa-masa SD yang indah, sangat indah bila dibanding dengan masa SD anak-anak sekarang. Jamanku kecil gak ada tuh namanya mainan hape, PS juga belum merakyat, komputer apalagi. Yang ada tuh mainan yang mengahasilkn sampah, seru banget deh…
Read the rest of “Masa Kecil Kita” »
Belahan jiwa, kekasih hati, cinta sejati dan sebangsanya…. Apa itu? Berhari-hari memenuhi pikiranku, menemani hari-hariku yang makin menginjak dewasa.
Pernikahan, perkawinan, suami, rumah tangga, apalagi ini? Membayangkannya saja membuat jantungku berdetak lebih cepat. Membayangkan siapa jodohku, bagaimana parasnya, apa aku cinta padanya, banyak pertanyaan yang benar2 tak kupercaya bisa muncul di otakku.
Mungkin tak hanya aku, sahabat-sahabatku yang lain pasti sudah mulai mendapat selentingan-selentingan semacam “udah punya calon nduk?” atau ” kapan nikah?” malahan temen-temen lama yang gak pernah ketemu, nulis di wall FB ” gimana kabarnya? wes merit ta?” Dan akupun nulis begini bukan karna akan menikah dalam waktu dekat. Hanya merangkum dari curhat teman-teman yang topiknya tak jauh dari hal ini. Sempat berpikir, apa aku sudah cukup dewasa membicarakan hal ini? Apa yang sudah kupunya untuk menjelang waktu itu? Waktu berjalan sangat cepat, padahal sepertinya baru kemarin aku masih main sepeda dengan teman2 SDku di depan rumah, masih berangkat les bareng temen2 SMPku, baru saja dianterin bapak buat daftar SMA. Tiba-tiba saja aku sudah menyaksikan satu persatu sahabatku menikah dan bahkan ada yang sudah gendong bayi. Subhanallah,,,
Melihat mereka makin membuatku deg-degan. Nantinya aku akan seperti mereka dengan pria yang masih dirahasiakan oleh-Nya. Entah dari belahan bumi mana dia akan berasal. Yang nantinya akan hidup berdua denganku, mengambil hak asuhku dari tangan bapak ibuku. Yang dari bukan siapa-siapa, tiba-tiba naik pangkat jadi raja dalam kehidupanku yang sgala-galanya harus didahulukan dari kepentinganku dan keluargaku. Yang harus kupatuhi setelah Allah dan Rasulku. Apa-apa mesti minta izin sama dia dulu, bahkan ngomong saja harus diperhatikan. Dan yang penting lagi, Ridho suami adalah ridho Allah. Makanya mesti bener-bener deh milih calon suami, bukan berarti kita perfeksionis atau mencari yang sempurna, tapi emang penting banget. Trutama dari agamanya, karena dialah yang akan menjadi imam kita, yang membawa kelurga kita ke jalan surga atau neraka. Tapi, kita juga menyiapkan diri, sebagai pencetak generasi-generasi terbaik, menjadi madrasah pertama bagi anakanak kita dan menjadi bidadari bagi suami di dunia dan Insya Allah hingga akhirat, Amin.
tapi Ya Rabb…Kadang, ingin hati memilih berjodoh dengan si A, si B, dengan segala kesempurnaan dan kekurangannya. Seolah-olah kita sudah siap menerima dia apa adanya. Nah, bila hati sudah condong terhadap seseorang, tiba-tiba orang tua mengajukan pilihan lain. Apa yang akan kita katakan? Sebagai seorang yang beriman dan berakhlaq, apa iya tindakan kita akan meniru cerita-cerita sinetron dan telenovela? Yang memaksakan kehendak, kabur dan akir-akhirnya mendapat restu yang terpaksa dari orang tua. Iya, klo sama-sama suka lha klo bertepuk sebelah tangan, masak mau maksa trus akhir-akhirnya setor nyawa sama malaikat pencabut nyawa. Naudzubillah… Pernikahan, tanpa restu dari orang tua, apa gunanya? Orang tua tidak meridhai, apalagi Allah…
Komunikasi yang baik dengan orang tua, harus digalakkan dari sekarang (kayak program pemerintah saja!). Dan yang paling penting komunikasi dengan Allah, agar kita mendapatkan yang terbaik, dimudahkan segala urusan kita apalagi masalah jodoh. Hmmm, pembicaraan yang berat. Dan aku tak mau dan tak pantas mengupasnya panjang lebar, karena aku tak mengetahui banyak hal tentang hal ini.
Untuk sahabat-sahabatku yang telah menemukan jodohnya, semoga semoga bahtera itu slalu terjaga hingga pelabuhan terakhir senantiasa bersama. Saling menjaga dan slalu mendapat ridha Allah, hingga menuju Firdaus-Nya.
Tulisan yang tak penting, hanya untuk menemani kegalauan
saat merasa diri ini semakin tak pantas untuk berhayal dan bermimpi
saat pembicaraan biasa menjadikan hati ini tak seperti biasa
semoga Allah senantiasa menjaga hati ini, menjauhkan dari segala yang melemahkan iman. Andai bisa memilih, smoga keraguan ini mendapat kepastian, dan kecemasan ini berlanjut pada ketenangan, dan…..keikhlasan bila tak digariskan.
Terima kasih bagi semua yang telah memberikan inspirasi
![]()
lama tak pernah kutulis, sajak tentang cinta…
saat sang penyair makin tersiksa dengan rasa ini
saat senja makin menyingkir memberi kegelapan
dan saat semua bersenandung dan berbangga akan kedatangannya
sungguh lama tak pernah kutulis tentang cinta…
hingga suara-suara malam hadir memelukku
kulihat sosok indah itu hanya dalam bayangan
tak tergapai dalam mimpi sekalipun
dan benar-benar lama tak kulukis gambaran cinta
hingga sketsa tak terkonsep terus membayang
hitam putih sosoknya makin kabur dan menghilang
dan dalam diam, ku makin bimbang, mengapa kau harus datang?
semakin lama tak kubicarakan tentang cinta
aku akan makin membisu menahan rindu
merasakan datang pergimu yang makin rancu
dan semua ungkapanmu yang ambigu
dan cukup disini kutulis tentang cinta
karna lisan tak mampu berkata dan menuliskannya dalam prosa
dan sampai disini kutulis semua tentang cinta
semoga hadirmu makin jelas dalam bias pelangi
yang terlukis jelas dan lengkap rinai warnanya
bukan untuk siapa dan untuk apa
cuma mencoba mengungkap suatu yang takbisa terungkap
kalimat biasa untuk sesuatu yang tak biasa
dan bila semua tak bermakna, akan tetap kubingkai dalam hati yang tak terbaca
posting pertama di sini
Sekedar cerita…
Aku pernah bermimpi bisa bersekolah tinggi (hanya mimpi, just kepengen), ya biar di keluarga ada yang pernah ngrasain masuk universitas dan di Kartu Keluarga beda sendiri, yang lain lulus SMA, yang atu D3, S1 ato yang lain (hehehe, becanda). Tapi bisa lulus SMA saja udah alhamdulillah wa syukurillah. Alhamdulillah yang kedua, Maha Pemberi Rezeki memberikan kesempatan untuk mencoba sekolah lanjutan cukup setahun (saja).Dan ini sudah mendekati area finish. Senang, bahagia, bangga, aku bisa merampungkan pendidikan ini dari rezeki yang dititipkan ALLAh padaku. Eh, ternyata di akhir-akhir masih diminta biaya lagi yang katanya biaya wisuda. Oalah, ono2 ae,,,, Gini to pendidikan di negoro merdeka? Pantes ae, di lampu merah banyak adek2 kecil nganggur tanpa pendidikan. Di sudut lain, membayangkan bangku universitas saja ngeri. Bukannya aku pelit atau jadi provokator, cuma belajar berpendapat dan berpikir. Ngapain sih cuma buat wisuda aja biayanya lumayan tinggi. Ini masih taraf pendidikan yang tanpa gelar lho…
Salah satu pegawai sekolahku (aku tak pernah menyebutnya kampus, karena bagiku itu hanya sebutan bagi bangunan universitas yang menghasilkan gelar) berkata, “Neng, ikut ato gak ikut wisuda tetep bayar. Dimana-mana begitu peraturannya. Coba tanya kak “X” yang sekarang wisuda sarjana, berapa juta tuh biaya wisudanya?” trus ijazahnya, gimana bu? boleh diambil kan? Beliau menjawab, “Ya bisa neng, tapi ya bayar dulu uang wisudanya.” dan aku, tak sedikitpun terpengaruh kata-kata itu. cuma heran, hubungannya wisuda sama ijazah apa?
Ada juga yang komentar, “Udah kuduga dia (yang dimaksudkan adalah saya) takkan ikut wisuda. Sayang ya gak ambil ijazah cuma karna uang yang bisa diusahakan.” kujawab dengan senyuman aja deh…
Daripada aku serius mikirin masalah wisudaku, aku justru lebih tertarik menghadiri undangan Khataman Qur’an di TPQ dekat rumah besok pagi. Disini ada pebandingan 2 wisuda yang jauh berbeda. Yang satu njlimet dengan baju toga, selembar ijazah, acara di hotel bintang (bintang kecil, dilangit yang mendung), dengan biaya yang gak jelas. Yang lain, sibuk dengan persiapan ter dari tim penguji khotmul Qur’an, sibuk dengan hafalan ayat-ayat, menyempurnakan bacaan dan persiapan teknis yang sederhana tapi jauh lebih membanggakan, untuk diri sendiri, orang tua dan terlebih di mata Allah Azza Wajalla.
Saat aku menerima undangan itu dari ustadz dan menyaksikan para peserta latihan tanya jawab, aku ikut deg-degan. Karena aku sendiri bila dihadiahi pertanyaan-pertanyaan itu, belum tentu bisa menjawab. Bacaan Qur’anku saja masih dalam tahap renovasi, Astaghfirullah… Kapan aku bisa menghadiahkan undangan ini untuk orang tuaku? tanyaku dalam hati. Semoga Allah mendengarkan doaku, dan memberikan ke-istiqomahan padaku. Amin amin ya Rabb
Kalau aku ditanya, apa masih tertarik dengan ijazah D1ku? pasti kujawab iya. Tapi tak menjadi prioritasku, aku lebih tertarik memacu semangatku agar tak kalah dengan anak2 SD dan SMP yang besok wisuda Khotmul Qur’an. Bagiku, wisuda mereka lebih bermakna daripada wisuda Sarjana sekalipun ( Barakallahulakum adek-adekku, semoga aku bisa menyusul. Amin)
Kalaupun sekolah tak mengeluarkan ijazahku, aku tak masalah. Rezeki sudah ada yang mengatur selagi aku berusaha untuk mencarinya. Mungkin orang lain, aku dibilang kolot, keras kepala, perhitungan, keterlaluan ato apalah. No problemo. Tapi maaf, masih banyak kepentingan yang menjadi peringkat 1 dalam skala prioritasku setiap bulannya. Kenapa pihak sekolah tak memberikan rincian biaya pengeluarannya di awal pendidikan? apalagi tak ada pemeberitahuan secara menyeluruh kepada semua siswa dan orang tua.
Dunia, begitu indahnya kah? begitu mahalkah hanya karena ilmu yang tak sberapa? Jutaan dan milyaran universitas dibangun dengan biaya yang setinggi-tingginya dengan alasan mendapat pengakuan internasional, udah terakreditasi,dibangun pemerintahlah, pengajarnya dari luar negerilah. Akhirnya, membuat banyak orang memutus jalur impiannya hanya karena uang. Tapi mengapa tak sedikit pula yang memberikan ilmu dunia akhirat dengan cuma-cuma, walau tanpa selembar ijazah, dengan fasilitas sederhana. Tapi mereka hanya minta “balasan” seikhlasnya, do’a dari murid-muridanya dan ridha dari Allah pemilik segalanya. Bukankah yang lebih penting, bagaimana siswa itu menyerap ilmu yang diajarkan? bagaimana mereka mengaplikasikannya?
Setidaknya, aku pernah merasakan apa yang bernama “kuliah”
Ya Rabb, maafkan bila kata-kataku melebihi kapasitasku sebagai murid dan sebagai warganegara
Semoga Engkau memberikan keberkahan dan manfaat dalam tiap ilmu yang kucari dan kudapatkan
berikanlah aku ilmu yang bisa menerangi alam kuburku, karena Engakulah pemilik dan pencipta segala Ilmu
for my school, so sorry… aku tak bemaksud membangkang atau meprovokasi. Aku telah menjalankan semua kewajibanku selama waktu belajar, apakah aku takkan lulus hanya karna aku memilih tak berpastisipasi “ceremony” ini? Walaupun, nilaiku memenuhi standar kelulusan?
Bapak, Ibu, doakan aku ya semoga aku bisa menghadiahkan “undangan” itu kepada kalian. Suatu hari nanti… Insya Allah
NB : maaf bagi yang tak berkenan atau tak sependapat. Sekali lagi maaf. Semoga ada sedikit manfaat yang bisa diambil. Semoga Allah mengampuni segala kekhilafan…Amin.